Demokrasi di negara ini memang masih hanya berumur belasan tahun,
mulai dari jatuhnya zaman orde baru yang sangat lama sekitar 32 tahun
lamanya membuat bangsa ini mencari jati diri sistem mana yang harus
dipilih menjadi sistem pemerintahannya. Muncul kemudian tahun pemilu
1999 presiden pertama hasil pilihan rakyat yaitu KH. Abdurrahman Wahid.
Kini sudah sekitar 15 tahun lamanya sudah dari awal sistem demokrasi
di negara tercinta ini. Maka sebagai pemuda penerus bangsa harus kita
tetap pertahankan semua peninggalan para pahlawan bangsa yang merelakan
dirinya dalam membangun bangsa ini.
Berbicara dengan demokrasi di Negara ini, tidak lepas dari ingatan
kita semua bahwa beberapa buln lalu Indonesia telah menyelesaikan 2
momentum besar yakni pemilihan umum legislatif dan dilanjutkan dengan
pemilihan umum untuk wakil presiden dan wakil presiden yang kemudain
menghantarkan pasangan Joko Widodo sebagai presiden RI ke-7 dengan Jusuf
Kalla sebagai wakil presiden.
Jika kita melihat dan mengamati perjalanan pak Jokowi sebagai
presiden memang sangat singkat. Dimulai dari keberhasilannya memimpin
Kota Solo kemudian maju menjadi Gubernur DKI Jakarta dan mengakhiri
perjalanannya kepada kursi orang nomor satu di negara ini itu berkat
dari keberadaan media. Kenapa seperti itu, Apa yang telah dilakukan
media? atau Seperti apa media yang menghantarkan pak Jokowi menjadi
presiden RI? Pertanyaan demi pertanyaan mulai muncul yang itu semua
membuat kita bersama menjadi bingung akan hal itu.
Definisi media
Kata media berasal dari bahasa latin dan merupakan bentuk jamak dari
kata medium yang secara harfiah berarti perantara atau pengantar. Dalam
buku Sadiman Medoe/Media adalah perantara atau pengantar pesan dari
pengirim ke penerima pesan. Sdangkan menurut Gagne dalam bukunya
mendefinisikan media adalah berbagai jenis komponen dalam lingkungan
yang dapat merangsangnya untuk melakukan sesuatu. Terakhir Brigs dalam
Sadiman berpendapat bahwa media adalah segala alat fisik yang dapat
menyajikan pesan.
Asosiasi Pendidikan Nasional (National Education association/ NEA)
memiliki pengertian yang berbeda yakni Media adalah bentuk-bntuk
komunikasi baik tercetak maupun audiovisual serta peralatannya. Dari
beberapa pendapat di atas terkait dengan Media, dapat diambil kesimpulan
yakni Media adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk
menyalurkan pesan dari pengirim ke penerima sehingga dapat merangsang
pikiran, perasaan, perhatian dan minat serta perhatian seseorang
sedemikian rupa.
Jenis Media
- Media Grafis (simbol-simbol komunikasi visual). Contoh media grafis antara lain gambar/photo, sketsa, diagram, grafik, kartun, poster, iklan koran, majalah, peta, papan flannel dan papan buletin.
- Media Audio (dikaitkan dengan indra pendengaran). Contohnya antara lain radio dan alat perekam pita magnetik.
- Media Audio Visual (dikaitkan dengan indra pendengaran dan penglihatan). Contohnya Televisi, Gedget dll.
Lalu apa sebenarnya hubungan antara media dengan sistem demokrasi di Indonesia hari ini?
Dalam masa perjalalanan politik bangsa ini, di Nusa Tenggara Barat
(NTB)sesaat lagi kita akan memasuki kembali masa–masa pesta demokrasi
untuk memilih kepala daerah (pemilukada) yang tersebar di tujuh (7)
Kabupaten/ Kota, setelah hampir 5 tahun yang lalu pesta demokrasi itu di
lasanakan, beberapa bulan kedepan tepatnya pada bulan Desember kita
akan mulai merasakan hasil–hasilnya. Tidak dapat kita pungkiri lagi
bahwa saat ini negara kita menganut sistem demokrasi yang semua wilayah
pemerintahannya melakukan memilih pemimpinnya dilakukan pemilihan
langsung oleh rakyat.
Pesta demokrasi pemilihan kepala daerah yang akan dilakukan ini,
tidak akan pernah lepas dari publikasi kepada masyarakat yang juga untuk
mengenalkan calon melalui kampanye maupun sosialisasi kegiatan pemilu
melalui media. Pada awal tulisan sudah dipaparkan Pak Jokowi memenangkan
kursi nomor satu di negara ini juga berkat dari media.
Media tidak bisa dilepas dari kegiatan kita sehari-hari, lahirnya pak
Jokowi juga akibat dari peberitaan-pemberitaan prestasi dan
kesehariannya yang sederhana dan bersahaja yang setiap hari di
publikasikan oleh awak media baik media cetak maupun elektronik bahkan
media sosial sehingga masyarakat terhegemoni dengan seluruh pemberitaan
maka wajar jika ada sedikit pemberitaan bernada buruk kepada presiden
kita ini maka rakyat tidak akan mudah percaya akibat dari efek media,
maka tentunya media sangat berperan besar dalam mengangkat seseorang
menjadi pemimpin terlebih-lebih lagi untuk sekelas pemilukada mendatang.
Keikut sertaan berbisnis dalam pesta demokrasi pun mulai banyak
dilirik oleh pengusaha khususnya penyedia jasa iklan untuk calon-calon
pemimpin di daerah. Data dari Survei Nielsen Media Research seperti
dikutip dari buku Iklan dan Politik (2008) menunjukkan partai politik
yang paling banyak beriklan di media massa pada Pemilu Legislatif tahun
2004 muncul sebagai pemenang pemilu. Lalu apa sebenarnya iklan politik
itu?
Menurut Sigit Santosa dalam buku Creative Advertising, iklan politik
adalah taktik penyampaian pesan, baik pesan verbal (visi dan misi)
maupun pesan nonverbal (foto diri) melalui media yang didesain
sedemikian rupa secara komunikatif guna menarik hati masyarakat atau
vouters. Sejak pemilu di era reformasi, Iklan politik memang merupakan
salah satu cara yang efektif untuk meningkatkan popularitas calon
pemimpin daerah agar nantinya dipilih masyarakat.
Jika kita melihat beberapa media massa khususnya media cetak terbesar
di NTB sudah penuh dengan foto-foto dan calon para peimpin daerah
dimasing-masing kabupaten/ kota dengan bahasa dan visi-misi yang beragam
untuk menarik perhatian masyarakat. Belum lagi jika kita berkeliling di
daerah masing-masing, pohon-pohon yang dulunya hijau dengan
daun-daunnya mulai berubah warna menjadi hijau kekuning-kuningan,
merah-kekuningan, merah bercampur hijau dan foto-foto yang nampak gagah
dengan permakan oleh para ahli designer advertising masing-masing.
Dapat kita simpulkan bahwa ketika seorang tokoh dapat menguasai media
maka kemungkinan besar pemenang pemilkuda dapat terlihat. Sebagai
komsumsi media para pembaca pasti sudah punya gambaran masing-masing
siapa hari ini di daerah masing-masing yang menguasai media maka kita
tunggu itulah calon pemimpin kedepan.
Awal terjadi kebebasan ini memang mulai dari diresmikannya kebebasan
pers setelah rezim orde baru berkuasa, secara tidak langsung
mempengaruhi pola pikir dan arah gerak pers sebagai pusat informasi,
terutama pada pilihan isu dan tema. Dari segi para calon maupun partai
yang bertarung di ajang pemilukada tidak akan melepaskan kesempatan
untuk merangkul media massa.
Dari sini peran pers menjadi sangat penting akan berlangsungnya pesta
demokrasi di bangsa ini. Posisi dan independensi pers sebagai tonggak
informasi dan kontrol sosial di masyarakat saat ini juga perlu
dikontrol, karena apabila mereka mampu mempengaruhi media massa
kemenangan akan lebih mudah diraih. Karena mereka akan membentuk citra
diri dari sisi media massa.
Pers pun seharusnya tetap bersikap netral dengan asumsi bahwa pers
merupakan salah satu pilar dari berdiri tegaknya demokrasi di bangsa
ini, apa bila pers sendiri telah melepas independensi dan netralitasnya
maka demokrasi pun akan turut terganggu. Masyarakat yang hanya memandang
dari satu sisi media massa dan kurangnya melek media di masyarakat akan
berdampak kurang baik pada perkembangan demokrasi bangsa ini.
Selain pers pihak penyelenggarapun harus bertindak tegas dengan
landasan regulasi yang sudah di tetapkan. Atuaran yang baru dalam
pemilukada di sebutkan bahwa segala atribut kampanye calon akan di
tanggung dan di buat oleh pihak penyelenggara maka harus tetap di kawal
tidak menutup kemungkinan bahwa para calon akan mencuri start dalam
meningkatkan elektabilitasnya dimasyarakat.
Akhir kata yang harus diingat adalah pemimpin yang mau berbuat untuk
memegang harapan rakyat banyak adalah pemimpin yang semestinya lahir
dari hasil pikiran dan hati rakyat bukan pemimpin yang menutup mukanya
dengan topeng kepopuleran akibat yang di timbulkan media


Posting Komentar
Silahkan beri komentar!!!!