Pendidikan
Indonesia kembali dibuat Galau akhir-akhir ini dimulai dari pernyataan Menteri
Pendidikan Dasar dan Menengah terkait pemberhentian Kurikulum 2013. Sangat
disesalkan memang kurikulum yang katanya sangat luar biasa yang digagas menteri
pendidikan dan kebudayaan M.Nuh yang sangat berharap kurikulum baru ini akan
menjawab tantangan dan permasalahan pendidikan Indonesia selama ini.
Tahun 2014
ini Kurikulum 2013 telah di umumkan oleh
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI untuk mengganti Kurikulum Tingkat Satuan
Pendidikan (KTSP). Ada beberapa perubahan yang sangat signifikan yakni penghapusan
mata pelajaran bahasa Inggris pada tingkat SD, serta pendekatan tematik
integratif yang katanya pada pendekatan ini siswa akan belajar dengan tema yang
akan dikombinasikan dengan mata pelajaran, yaitu PPKN, Agama, Bahasa Indonesia,
Matematika, Seni Budaya dan Pendidikan jasmani, dengan point pokok bahwa setiap
pesrta didik harus mampu memiliki hal tersebut diatas.
Jika menganalisis
terkait Kurikulum 2013 ini, sebenarnya kurikulum ini sudah di berlakukan
dibeberapa Negara di dunia seperti di Finlandia, Jerman dan Prancis. Jika
melihat laju perkembangan pendidikan di Negara-negara tersebut diatas sudah
tentu kurikulum 2013 sangatlah bagus untuk di terapkan di Indonesia dan
bersaing dengan Negara-negara yang lebih dahulu menerapkan kurikulum ini.
Tetapi perlu kita menengok kembali bahwa apakah kurikulum ini memang tepat
untuk diterapkan di Indonesia jika melihat dari keadaan dan potensi lingkungn
Negara Indonesia yang bisa kita katakan masih jauh tertinggal jika di
bandingkan dengan Negara-Negara di atas yang sudah sangat maju. Pertanyaan
besarnya adalah mampu tidak kita seperti mereka?
Kurikulum di
Indonesia diatur dan dikontrol oleh pemerintah pusat yang tentunya hanya bisa
diubah oleh pemerintah. Ini menyebabkan masyarakat yang dalam hal ini adalah
orang tua wali peserta didik hanya menjadi konsumen pendidikan, buktinya adalah
orang tua/ wali tidak dibiarkan terlibat dalam mengembangkan dan pembuatan
kurikulum, sehingga pertanyaan besar bahwa bagaimana barometer kurikulum
dikatakan berhasil atau tidak? Ataukah cukup dengan hasil UN setiap tahunnya?
Jika
melihat perjalanan kurikulum di Indonesia, sebenarnya kita sudah sering
brgonta-ganti kurikulum. Tentunya ini menjadi evaluasi untuk menyempurnakan
kurikulum-kurikulum selanjutnya, tapi melihat sikap pemerintah hari ini dengan
begitu cepat kurikulum 2013 di berhentikan menjadi pertanyaan besar public,
bahwa ada apa dengan wajah pendidikan Indonesia hari ini? Apakah karena kurikulum ini adalah kurikulum
adopsi dari Negara lain lantas menjadikan Negara kita anti dengan kurikulum
ini? Memang tidak secepat itu kita menjawab setiap pertanyaan-pertanyaan
diatas.
Namun menerapkan
kurikulum dari negara maju bukannya sah-sah saja selama diterapkan dengan benar
dan tepat sasaran. Lantas tentunya kita juga harus siap mengadopsi sistem
negara mereka yang memang kondisi pendidikan didukung baik oleh sarana dan
prasarana, serta guru yang memiliki latar belakang keilmuan dan pengalaman yang
baik. Secara kasat mata kita bisa melihat bahwa pendidikan kita belum merata.
Di desa dan di kota sangat berbeda dari segi fasilitas, guru dan lingkungan.
UN
misalnya yang menjadi acuan dari system pendidikan di Indonesia sudah dari dulu
disuarakan oleh para aktivis pendidikan bahwa itu tidak serta merta menjadi
barometer pendidikan di Indonesia. Ini di akibatkan oleh tidak meratanya
penidikan di Negara kita. Selama ini acuan pemerintah pusat adalah
pendidikan-pendidikan besar di kota sedangkan sekolah yang di pinggir desa
tidak pernah dilihat baik dari segi kelyakan sarana dan sebagainya.
Dalam hal
fasilitas misalnya, kita masih tertinggal jauh dengan negara maju seperti
Finlandia, terutama dalam hal fasilitas sekolah dalam mendukung kegiatan
belajar seperti laboratorium bahasa, sains dan lainnya. Tanpa fasilitas yang
memadai sangat sulit untuk menelurkan siswa berprestasi di bidangnya. Jadi, sudah
tentu ini menjadi permasalahan dalam penerapan kurikulum 2013 ini.
Berbicara
tentang guru, dalam kurikulum 2013 ini guru ditunjtut untuk berperan aktif
dalam hal menjalankan kurikulum ini. Sosialisai tentang Kurikulum 2013 ini
sangat penting dan sudah sering dijalankan meskipun itu tidak merata kesemua
lembaga pendidikan. Sudah tentu bhwa tanpa pengetahuan yang cukup terkait
kurimulum ini guru-guru akan merasa kebingungan dan sulit mengaplikasikan
kurikulum ini. Terlebih lagi dalam kurikulum ini guru dituntut lebih mandiri
dan aktif menciptakan bahan dalam mata pelajarannya.
Dalam
Kurikulum 2013 guru dituntut melakukan tiga hal yaitu guide, teach, explain.
Guru diharapkan dapat membimbing (guide) siswa, mengajarkan mereka dan
menjelaskan kegiatan-kegiatan yang dilakukan. Jadi tidak sebatas mengeluarkan
isi buku dan dimasukkan ke kepala siswa, tetapi peran aktif guru lebih dituntut
untuk menuntun siswa mendapatkan apa yang seharusnya mereka dapat di sekolah.
Konsep dan teluran kurikulum 2013 tentunya sangat luar biasa jika kita melihat
ketiga aspek tersebut diatas. Tetapi perlu di cermati pula bahwa dalam
mengaplikasikan ketiga aspek diatas dalam proses belajar mengajar tentuya
sangat sulit dilakukan mengingat selama ini guru hanya dituntut untuk mengajar
peserta didik, selama ini yang diketemukan dilapangan adalah peserta didik
tidak hanya memiliki watak dan karakter yang sama melainkan berbeda tentunya
jika guru disamping mengajar juga harus membimbing mereka dan memetakkan
keinginan setiap individu peserta didik tentunya mustahil akan dilakukan oleh setiap
guru.
Lain lagi
jika berbicara terkait fasilitas dan sarana pendukung, yang menjadi keluhan
beberapa bulan itu yang mulai muncul dipermukaan media adalah tentang buku
pelajaran kurikulum 2013, ada yang belajar menggunakan buku fotokopi, kemudian
belajar memakai buku lama dan masih banyak lagi, seolah-olah kurikulum 2013 ini
dipaksakan keberadaannya di Indonesia. Hai ini entah kita mau menyalahkan
siapa, pemerintah yang dalam hal ini sebagai pemegang kebijakan ataukah
pelaksana kurikulum yang dalam hal ini sekolah-sekolah yang belum siap dalam
mengimplementasikan kurikulum 2013 ini.
Menulis
permasalahan sedikit demi sedikit kurikulum 2013 ini tentunya tidak akan
habis-habisnya, maka yang lebih terpenting sekarang adalah bagaimana solusi
yang tepat terkait permasalahan ini. Saling menyalahkan tentunya bukan solusi
yang terbaik untuk permasalahan ini.


Posting Komentar
Silahkan beri komentar!!!!